hello my blog.. it's such a long time since i wrote in this blog before.. hmm.. sebenernya uda mulai minggu lalu pengen banget nulis tentang 6 hariku di Bandung (yang intinya real vacationnya itu cuma 3 hari :p). Karena jadwal yang padat dan bertumpuk akhirnya baru bisa sekarang deh. sambil dengerin albumnya Hoobastank - Every man for himself, Yuk mulai aja deh ceritanya..hoho..
Cerita ini berawal dari Pejompongan, Jakarta pusat. Pagi-pagi check jadwal buat berangkat ke Bandung naik kereta akhirnya ditetapkanlah untuk berangkat jam 9 dari Gambir. Akupun berangkat dari pejompongan jam 8 kurang dikit dengan harapan uda sampai di Gambir jam 8.30, naik Bemo, trus disambung naik TransJakarta di Bendhil menuju ke Harmoni. Awalnya jalan lancar-lancar saja sampai di daerah Bunderan HI lampu merahnya agak lama dan pas mau transit di Harmoni bus yang ada didepan lama banget berhenti yang membuat raut muka sebagian penumpang (termasuk aku tentunya) jadi sedikit marah. Setelah menunggu sekitar 5-7 menit baru deh bisa keluar dan masih harus menunggu bus ke arah Gambir 2. Aku mulai ngelirik jam di HP dan ternyata sudah 8.46, wah ternyata uda hampir telat. Busnya pun dateng dan nyampe di Gambir jam 8.54 dan aku langsung lari ke arah tempat beli tiket, hmph ternyata uda rame antriannya. Akhirnya aku ikut buat antrian yang cukup panjang padahal uda jam 9, uda buru2 dan pas giliran beli tiket eh yang jual nawarin jam 11, akupun nyetujuin aja karena uda ngelihat uda jam 9.10 (kereta berangkat jam 9.15). Pas aku duduk2 di peron ternyata keretanya belum daten, dalem pikiranku "aaah kenapa tadi ga ambil jam 9 aja coba, jadinya malah nunggu 2 jam.. -.-' ". Dan terjadilah kegejean selama 1 setengah jam (keretanya uda dateng jam 10.30an.. hehe). Dengan santainya akupun duduk di 6D gerbong 1, pas keretanya mau berangkat ada orang dateng dan bilang dia duduk disitu, aku buka tiket dan ternyata aku duduk di 6D gerbong 2, sial, malah jadi malu, langsung deh kabur ke 6D 2, eh disana uda ada ibu2, dengan sopan aku berkata "Maaf Bu saya duduk di 6D" dia pun dengan tenang membalas "Oh iya dek, sama aja kok", "(klo ga orang tua aja.. uda gw paksa pindah lu)" pikirku. Tapi ya sudahlah, aku duduk disamping ibu itu, dan membaca buku sampai Bandung (sambil ngecharge HP tentunya.. :p). Sesampainya di Bandung langsung deh pergi jalan kaki (uda kaya backpacker cuy) menuju daerah UPI. Karena udah kecapean molih naek angkot aja, ternyata jalan Setiabudi lagi macet2nya menjelang akhir tahun. Yang gpp juga buat ngurangin capeknya jalan tadi. Sampai di UPI langsung istirahat deh..
Hmm hari k2 di skip aja x ye.. Abisnya cuma maen DOTA doang seharian...
Hari ke 3.. karena uda keburu bosen di rumah akhirnya akupun mengajak kakak buat pergi entah kemana, diapun berinisiatif buat ke museum Geologi Bandung. Sesampainya disana kami bingung, masuknya bayar atau ga, tapi yasudahlah.. kami masuk aja tanpa peduli urusan tiket tiketan.. Eh kami malah disuruh masuk ke ruang Auditorium untuk menonton ilmu Geologi (whaat?? Biarpun gw ips ga belajar geologi kalee). Dan mulailah kami menjelajahi tu museum, isinya Batu- batuan, fosil (mulai dari fosil daun, ikan, kura-kura, sampai dinosaurus),
Hmm hari k2 di skip aja x ye.. Abisnya cuma maen DOTA doang seharian...
Hari ke 3.. karena uda keburu bosen di rumah akhirnya akupun mengajak kakak buat pergi entah kemana, diapun berinisiatif buat ke museum Geologi Bandung. Sesampainya disana kami bingung, masuknya bayar atau ga, tapi yasudahlah.. kami masuk aja tanpa peduli urusan tiket tiketan.. Eh kami malah disuruh masuk ke ruang Auditorium untuk menonton ilmu Geologi (whaat?? Biarpun gw ips ga belajar geologi kalee). Dan mulailah kami menjelajahi tu museum, isinya Batu- batuan, fosil (mulai dari fosil daun, ikan, kura-kura, sampai dinosaurus),
oia... ada juga replika homo sapiens lhooo...(yang ini sama sekali ga mirip manusia purba, malah kaya orang afrika gitu). Setelah selesai muter-muter museum Geologi Bandung, kami pun berencana untuk berangkat ke BIP tapi jalan kaki tanpa tau arah (padahal uda nanya.. maklum bukan orang Bandung...hehe). Kami berjalan ke arah jalan Aceh, melewati Taman Lalu Lintas, KODAM III,
dan akhirnya nyampe deh di BIP (padahal ada jalan lebih singkat). Setelah capek berjalan dan maen di Gramed (aneh.. jalan jauh maennya di Gramed ==’) kami pun pulang dengan lagi-lagi ditunda dengan sedikit kemacetan.
Hari ke 4.
Ini adalah hari dari awal trip yang sebenarya. Berawal dari menjemput sepupu yang menysul aku di Stasiun Bandung, kami pun pergi ke arah Jl. Trunojoyo menuju ke Sambara
(sebuah Restoran masakan khas Bandung yang cukup modern) tapi setelah aku bertanya pada teman yang asli Bandung, dia mengatakan “Kenapa ga ke Bancakan saja?? Tu tempatnya asli bandung banget”. Akhirnya kami pun memilih Resto Bancakan. Ketika kami masuk sudah terlihat antrian yang panjang sekali, rupanya setiap orang mengambil makanannya sendiri, beserta minumannya, sekalian mengantri aku sempatkan buat memfoto beberapa spot dari tempat itu.
Tempatnya cukup menarik, peralatan yang digunakan merupakan peralatan yang sederhana sepertu piring kaleng, cangkir kaleng kecil, tikar pandan, lampu gantung. Makanan yang disajikan pun beragam tapi masih tetap merupakan makanan khas Bandung, minumannya juga demikian, ada juga iringan tiupan seruling, wah bener-bener asli deh.
Tapi ada kejadian yang lucu menurutku, sewaktu mengambil teh untuk minum aku ga sengaja menumpahkan sebagian teh tersebut hingga membasahi kakiku, rasanya panas banget tapi aku berlagak cool saja, dengan mengambil lagi tehnya dan langsung pergi ketempat kami duduk. Menurut info dari temenku kalau pada saat bulan Ramadhan maka tempat ini akan penuh sekali, sampai-sampai tempat parkir dipakai sebagai tempat makan. Hmm.. soal harga.. aku sih kurang tahu.. dibayarin siiih.. hehe :p.
Setelah selesai makan akupun pergi dengan temanku menuju bekas pusat kegiatan yahudi di bandung yang sekarang dijadikan sebagai Masjid yang sebelumnya dirubuhkan terlebih dahulu. Kemudian akupun kembali menuju daerah UPI, tapi di Jl. Setiabudi sudah macet bgt, hampir 40an menit aku berada didalam angkot kepanasan, ketika melewati PVJ, terlihat papan pemberitahu jumlah mobil yang parkir di PVJ sudah sampai 915 mobil (padat banget yak?? Kira-kira kapasitasnya berapa yaa??). Sesampainya di daerah UPI, akupun kembali memegang kamera (tadi dibawa sama sepupu), mulai mengadakan sesi foto (emang muka gw mirip tukang foto apa??).
Setelah sesi foto tersebut kamipun berangkat menuju Rumah Sosis, Karena satupun dari kami belum pernah masuk kesana, dengan santainya kami masuk saja dan langsung menuju areal bermain dengan mengira bahwa restorannya ada disana. Tapi setelah mencari ternyata adanya cuma tempat bermain, mulai dari renang, balap sepeda, dsb. Kamipun bertanya pada salah satu karyawan disana dan dia memberitahu kalau restorannya ada didekat mushalla dekat pintu masuk dan kamipun langsung menuju kesana.
Kamipun langsung memesan makanan, range harga makanannya mulai dari 20an sampai 50an ribu, kalau minuman mulai dari ribuan sampai 20an ribu. Makanan yang disajikan ngga Cuma sosis, biarpun bertema sosis, resto ini masih menyajikan Steak (Sirloin n Tenderloin), omelet, dsb. Minuman yang disajikan masih seperti resto biasa termasuk hot chocolate, hot coffee, dsb. Tempat makannya pun terbagi 2 ada yang di dalam ruangan dan diluar ruangan, namun kami lebih memilih didalam ruangan, hiasannya ga jauh dari namanya yaitu, sosis. Oia, resto ini tutup pada jam 7 malam. Setelah itu kami pun kembali ke tempat kami mengninap.
Hari ke 5.
Di hari ke 5 ini kami pun mulai perjalanan kami menuju GH Universal. Hotel ini bercirikan arsitektur seperti kastil, bagian dalamnya cukup pun cukup mewah. Kami pun kembali mengadakan sesi foto disitu karena spot-spotnya cukup menarik. Pemandangan dari puncak hotel ini cukup bagus (tanpa peduli sama penghuni hotel ini kamipun terus melakukan sesi foto).
Kami pun berangkat menuju daerah ITB, kami memilih untuk makan di Sam Strawbery. Disini disajikan berbagai macam olahan stroberi, dan ada juga makanan seperti Yamien, dsb. Karena pengen mencoba aku memilih Yamien manis. Hmm.. rasanya cukup mantep, dan rasa jus stroberinya segar.
Setelah selesai kami pun berangkat menuju Gua Jepang dan Belanda yang berada di Taman Hutan Raya Juanda. Dengan menempuh perjalanan yang cukup panjang dan berganti angkot hehe.. kami pun melanjutkan dengan berjalan kaki. Fiuh.. jalan yang naik turun dan cuaca yang terik membuat kami kecapean. Sesampainya di daerah Taman Hutan Raya Juanda kami pun langsung menuju gua Jepang, Gua Jepang ini merupakan gua kecil yang dibangun oleh tentara jepang pada zaman peperangan. Penggalian gua ini membutuhkan waktu selama 3 tahun mulai dari 1942-1945 yang dikerjakan oleh orang indonesia sendiri dengan sistem kreja paksa/Romusha (ini kata guidenya sih). Suasana didalam Gua Jepang ini cukup gelap, gua ini terbagi atas beberapa lorong dan ruangan, sebagian ruangan dijadikan sebagai tempat istirahat dan sebagian lagi dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata. Ada juga lorong-lorong kecil yang digunakan untuk ventilasi dan tempat pengintaian lho.. Oia.. lagi-lagi ada kejadian lucu ditempat ini, sewaktu ingin mengambil foto didalam Gua Jepang ini, kamera yang kami gunakan malah ga bisa berfungsi dan setelah mengambil beberapa kali foto yang berhasil jadi hanya 1 dan itupun ga jelas. Berikut hasil fotonya
Tapi setelah keluar dari gua tersebut kameranya bisa kembali digunakan. Kata guidenya sih terkadang ada saja hal gaib yang terjadi (percaya?? Ga ikutan deh). Kamipun cuma foto-foto di lorong yang masih ada cahayanya. FYI: kalau ditawarin untuk masuk ke Gua jepang pake guide mereka minta bayar Rp 25.000,- dan untuk senter @Rp 3.000,- per senternya.
Setelah itu kami pun menuju Gua Belanda, yang jarak dari persimpangan untuk menuju ke 2 gua tersebut Gua Jepang sekitar 100m Gua Belanda 400-500 m (mudah2an ga salah). Gua ini cukup berbeda dengan Guan Jepang. Perbedaannya adalah, Gua Belanda sudah dilapisi dengan semen sedangkan Gua Jepang masih kasar dan terbuat dari tanah, Gua Belanda juga memiliki pintu yang terbuat dari besi, ada juga Rel (mungkin untuk memindahkan barang), selain itu sudah di alirin arus litrik kayanya (ada panel listrik didekat pintu). Tapi sewaktu masuk listriknya mati (mungkin supaya seru), gua ini juga dipakai sebagai tempat penyimpanan senjata dan tempat tinggal sementara Tentara Belanda. Gua ini berakhir pada pintu yang menghubungkan 1 sisi dengan sisi lain yang menuju curug (kami tidak melanjutkan perjalanan karena 2 orang selain aku sudah kecapekan).
Hari ke 6
Ini adalah hari terakhir perjalananku di Bandung, diawali dengan packing (karena sudah harus balik menuju Jakarta) kami pun berangkat menuju Jl. Riau. Di Jl. Riau ini banyak terdafat FO (Factory Outlet) mulai dari The Secret, Cascade, dsb. Kami pun mengawali dengan masuk ke The Secret, FO ini mempunyai penampilan yang cukup berbeda dengan FO lainnya. Setelah memilih dan berputar-putar kamipun melanjutkan ke FO lainnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.33 kami pun menuju salah satu tempat makan di Jl. Riau, kamipun memilih Terminal Timbel sebagai tempat makan kami. Rupanya tempat ini sudah pernah di kunjungi oleh Pak Bondan, sebenarnya kami ingin memesan Nasi Timbel yang cukup bervariasi yang mereka sajikan, tapi karena aku kurang suka sayur asem akupun hanya memilih Nasi Goreng Kampung. Nasi gorengnya cukup gurih tapi Gado2nya sedikit asin (mungkin lidahku yang salah). Range harganya mulai diatas 15ribu.. Akhirnya kami berangkat menuju Stasiun Bandung untuk kembali ke Jakarta .

wah, aku sering liat di tv itu ttg gua jepang dan belanda, tapi gak pernah pergi. Katanya di tv kn banyak mahluk kasarnya di sana.
kau menjelajah masuk ke dalam nggk ran?
ran, tukeran link blog yug, biar makin rame blog kita.
maen aja wan kesana.. di dago atas kok.. :P
masuk kedalam.. tuh baca ga kalau aku ga bisa ambil foto di dalem...
tukkeran link maksudnya??