Hi again!!
Lagi2 harus menulis karena ide yang ada udah keburu habis, ide-ide brilliant yang ada sebelumnya sempat hilang lagi. Disalah satu note yang ada di facebook saya, saya pernah mengangkat sebuah cerita tentang wortel, telur dan kopi. Untuk me refreshnya kembali saya tampilkan kembali dalam tulisan kali ini.
Dalam kehidupan kita sehari-hari pasti kita pernah merasakan kegagalan maupun kemenangan. Ada yang beranjak dari berbagai kegagalan hingga mencapai puncak kemenangan sebenarnya. Dan ada pula orang yang baru pertama kali mencoba sudah bisa mencapai puncaknya, tapi sebelumnya dia sudah memperkirakan beberapa tahap kedepan, apa saja kemungkinan terburuk dan masalah yang akan dihadapinya. Saya sendiri juga beberapa kali mengalami kegagalan dalam hidup (walaupun sekarang masih berusaha bangkit). Ketika saya mengalami kegagalan, sering sekali saya merasa depresi hingga terkadang bisa disebut stress. Pada saat itu juga pasti saya akan berusahan untuk mencari tahu alasan kegagalan saya dan membuat persiapan lagi. Selain itu saya juga berusaha menghubungi orang-orang yang lebih baik daripada saya, dari mereka saya diajari kesabaran dan ketabahan. Ketika saya mendengar semua nasihat-nasihat dari beberapa orang yang menurut saya berkompeten, saat itu juga muncul tekad agar lebih meningkatkan kemampuan dan cara belajar dimasa depan. Ya, hal itu memang berlanjut selama beberapa minggu. Kemantapan hati tetap teguh dari hari kehari, namun beberapa hari seterusnya tak terasa tekad tadi mulai luntur. Saya sempat menekankan kembali "1 hal" yang menjadi "kunci" dalam penentuan kedepan. Dan hal itu cukup mampu untuk membangkitkan semangat, namun tak bertahan cukup lama.
Kemudian dalam suatu buku saya menemukan bahwa setiap orang yang mengalami kegagalan pasti mengalami beberapa fase dan itu tergantung orangnya. Fase-fase tersebut adalah
1. Down (merasa lemah)
2. Pasrah
3. Sabar
4. Mencari akar masalah (asal kegagalan)
5. Berhenti melakukan kegiatan
6. Berani mencoba lagi dengan persiapan lebih matang
7. Mencoba melakukan kegiatan lain
Nah.. untuk berbagai macam orang, cukup berbeda pula bagian yang menjadi pilihannya. Misalnya ada yang memilih 1,2,3,4,6. Ada juga yang memilih 2,3,4,6. Bahkan ada yang memilih 1, 5. Jika diperhatikan kemungkinan pilihan terbaik adalah 3, 4, 6. ........
Bagi sebagian orang, berusaha adalah sebuah kegiatan yang membosankan bila tujuan yang dilakukan adalah hal yang sama, tapi apakah kita tahu bahwa jika kita bisa saja membuat hal tersebut menjadi sebuah hal yang baru dengan menggunakan jalan baru dan diberi bumbu-bumbu yang mampu menambah semangat kita. Dorongan dari orang-orang terdekat merupakan salah satu "bumbu" yang sangat penting, tidak salah untuk meminta bantuan dari sahabat, saudara, teman bahkan seseorang yang baru kita kenal, ingat teman, malu bertanya maka sesatlah dijalan..
Sekali notes ini hanya untuk mengingatkan saja, terutama untuk saya sendiri yang sering mengalami kegagalan. Seorang teman pernah berkata "Orang-orang kebanyakan hanya melihat hasil dari suatu kegiatan, tapi tidak melihat bagaimana prosesnya", hal tersebut mempunyai makna yang cukup besar, dan saya juga pernah membaca bahwa "Gates, Zuckerberg, masuk ke Harvard namun mereka terdepak dari sana tapi mereka malah menjadi orang yang besar, hal terpenting bukan "DO" mereka tapi apa yang mereka peroleh dan network yang mereka hasilkan". Mari kita pikirkan, apa yang selama ini telah kita peroleh, hasilkan, dan apa yang akan kita gunakan dari semua itu??, apakah dapat bermanfaat, apakah dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar??. Ok, selama disini saya mendapatkan ilmu tentang perpajakan, sosial, ekonomi, organisasi, leadership, dsb, tapi saya masih belum menghasilkan sesuatu dari hal itu, malah saya mendengar dari beberapa senior bahwa ilmu tersebut hanya berguna sebagian.
Dalam buku "Hidup berawal dari Mimpi" karya Fahd Jibran dan Bondan Pn Fade2Black, terdapat beberapa buah cerita yang mampu menginspirasi kita untuk berubah menjadi lebih baik demi mengejar cita-cita. Jika kita membaca buku-buku inspiratif lainnya kita juga akan menemukan sebuah titik balik mereka yang berhasil tersebut, hal tersebut dapat kita jadikan contoh dalam hidup kita, namun untuk selanjutnya kita sendirilah yang menentukan kemana jalan kita mengarah selanjutnya. Perubahan cita-cita itu tidak menjadi masalah asalkan kita memang mencintai apa yang kita laksanakan pada saat itu. Berawal dari cinta maka terciptalah hasil yang sempurna. Ingat teman, jangan paksakan apa yang ingin kau impikan, terima apa yang ada, berusahalah untuk semaksimal kemampuanmu dan Tuhan pun akan mendengarnya. Keyakinan kita terhadap Tuhan juga merupakan modal utama untuk semua. Semangat, ikhtiar, doa, usaha dan tersenyumlah.. :D
Lagi2 harus menulis karena ide yang ada udah keburu habis, ide-ide brilliant yang ada sebelumnya sempat hilang lagi. Disalah satu note yang ada di facebook saya, saya pernah mengangkat sebuah cerita tentang wortel, telur dan kopi. Untuk me refreshnya kembali saya tampilkan kembali dalam tulisan kali ini.
Wortel, Telur, dan Kopi
by Imran Sihaloho on Monday, March 28, 2011 at 11:40am
Pada suatu hari, ada seorang anak yang mengeluh kepada ayahnya mengenai kehidupan dan menyanyakan menga hidup ini tesara berat baginya. Ia tidak tahu mbagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya, setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru. Ayahnya, seorang koki, membawanya kedapur. Ia mangisi tiga panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci tersebuh mendidih, ia pun menaruh wortel didalam panci pertama, telur di panci kedua, dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir.
Ia membiarkannya mendidih tanpa kata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan oleh ayahnya. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menarunya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, lalu menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat nak?" Sang anak menjawab, "Wortel, Telur,dan Kopi'. Ayahnya mengajaknya mendkat dan merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memcahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur yang keras. Terakhir ayahnya memintanya untuk mencici kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini, Ayah?"
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan. Tetapi, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras, dan sukar dipatahkan. Tetapi seteleh direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah dimasukan dalam rebusan air, bubuk kopi mengubah air tersebut. "Kamu termasuk yang mana?" yanya ayahnya. "Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur, atau kopi?"(Dikutip dari buku "Cita-cita..." Karangan M. Iqbal Dawani)
setiap orang pasti akan menghadapi berbagai macam kesulitan, mulai dari mudah hingga yang paling sulit. Masing-masing orang pun pasti mempunyai cara menghadapinya, sesuai dengan pemahaman mereka tentang kesulitan itu. Apakah mereka akan menganggap hal tersebut sebagai ujian dari Tuhan, atau bagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui yang akan dijadikan sebagai pengalaman. Namun tak sedikit pula yang melihat dan menghadapinya dari sisi berlawanan (negatif) yang malah membuat mereka semakin berada dijalur balik atau bahkan malah berhenti . Sama seperti cerita diatas, setiap orang bisa saja bertindak sebagai wortel, telur atau pun kopi. Tentu kopi merupakan posisi yang paling ideal. Tapi, tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama dan kemampuan yang sama dalam menghadapi situasi diberbagai kejadian yang berbeda. Jadi, setelah melihat perjalanan panjang kehidupan Anda, Anda berada termasuk yang mana?? Wortel, telur atau kopi??
Dalam kehidupan kita sehari-hari pasti kita pernah merasakan kegagalan maupun kemenangan. Ada yang beranjak dari berbagai kegagalan hingga mencapai puncak kemenangan sebenarnya. Dan ada pula orang yang baru pertama kali mencoba sudah bisa mencapai puncaknya, tapi sebelumnya dia sudah memperkirakan beberapa tahap kedepan, apa saja kemungkinan terburuk dan masalah yang akan dihadapinya. Saya sendiri juga beberapa kali mengalami kegagalan dalam hidup (walaupun sekarang masih berusaha bangkit). Ketika saya mengalami kegagalan, sering sekali saya merasa depresi hingga terkadang bisa disebut stress. Pada saat itu juga pasti saya akan berusahan untuk mencari tahu alasan kegagalan saya dan membuat persiapan lagi. Selain itu saya juga berusaha menghubungi orang-orang yang lebih baik daripada saya, dari mereka saya diajari kesabaran dan ketabahan. Ketika saya mendengar semua nasihat-nasihat dari beberapa orang yang menurut saya berkompeten, saat itu juga muncul tekad agar lebih meningkatkan kemampuan dan cara belajar dimasa depan. Ya, hal itu memang berlanjut selama beberapa minggu. Kemantapan hati tetap teguh dari hari kehari, namun beberapa hari seterusnya tak terasa tekad tadi mulai luntur. Saya sempat menekankan kembali "1 hal" yang menjadi "kunci" dalam penentuan kedepan. Dan hal itu cukup mampu untuk membangkitkan semangat, namun tak bertahan cukup lama.
Kemudian dalam suatu buku saya menemukan bahwa setiap orang yang mengalami kegagalan pasti mengalami beberapa fase dan itu tergantung orangnya. Fase-fase tersebut adalah
1. Down (merasa lemah)
2. Pasrah
3. Sabar
4. Mencari akar masalah (asal kegagalan)
5. Berhenti melakukan kegiatan
6. Berani mencoba lagi dengan persiapan lebih matang
7. Mencoba melakukan kegiatan lain
Nah.. untuk berbagai macam orang, cukup berbeda pula bagian yang menjadi pilihannya. Misalnya ada yang memilih 1,2,3,4,6. Ada juga yang memilih 2,3,4,6. Bahkan ada yang memilih 1, 5. Jika diperhatikan kemungkinan pilihan terbaik adalah 3, 4, 6. ........
Bagi sebagian orang, berusaha adalah sebuah kegiatan yang membosankan bila tujuan yang dilakukan adalah hal yang sama, tapi apakah kita tahu bahwa jika kita bisa saja membuat hal tersebut menjadi sebuah hal yang baru dengan menggunakan jalan baru dan diberi bumbu-bumbu yang mampu menambah semangat kita. Dorongan dari orang-orang terdekat merupakan salah satu "bumbu" yang sangat penting, tidak salah untuk meminta bantuan dari sahabat, saudara, teman bahkan seseorang yang baru kita kenal, ingat teman, malu bertanya maka sesatlah dijalan..
Sekali notes ini hanya untuk mengingatkan saja, terutama untuk saya sendiri yang sering mengalami kegagalan. Seorang teman pernah berkata "Orang-orang kebanyakan hanya melihat hasil dari suatu kegiatan, tapi tidak melihat bagaimana prosesnya", hal tersebut mempunyai makna yang cukup besar, dan saya juga pernah membaca bahwa "Gates, Zuckerberg, masuk ke Harvard namun mereka terdepak dari sana tapi mereka malah menjadi orang yang besar, hal terpenting bukan "DO" mereka tapi apa yang mereka peroleh dan network yang mereka hasilkan". Mari kita pikirkan, apa yang selama ini telah kita peroleh, hasilkan, dan apa yang akan kita gunakan dari semua itu??, apakah dapat bermanfaat, apakah dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar??. Ok, selama disini saya mendapatkan ilmu tentang perpajakan, sosial, ekonomi, organisasi, leadership, dsb, tapi saya masih belum menghasilkan sesuatu dari hal itu, malah saya mendengar dari beberapa senior bahwa ilmu tersebut hanya berguna sebagian.
Dalam buku "Hidup berawal dari Mimpi" karya Fahd Jibran dan Bondan Pn Fade2Black, terdapat beberapa buah cerita yang mampu menginspirasi kita untuk berubah menjadi lebih baik demi mengejar cita-cita. Jika kita membaca buku-buku inspiratif lainnya kita juga akan menemukan sebuah titik balik mereka yang berhasil tersebut, hal tersebut dapat kita jadikan contoh dalam hidup kita, namun untuk selanjutnya kita sendirilah yang menentukan kemana jalan kita mengarah selanjutnya. Perubahan cita-cita itu tidak menjadi masalah asalkan kita memang mencintai apa yang kita laksanakan pada saat itu. Berawal dari cinta maka terciptalah hasil yang sempurna. Ingat teman, jangan paksakan apa yang ingin kau impikan, terima apa yang ada, berusahalah untuk semaksimal kemampuanmu dan Tuhan pun akan mendengarnya. Keyakinan kita terhadap Tuhan juga merupakan modal utama untuk semua. Semangat, ikhtiar, doa, usaha dan tersenyumlah.. :D

wah, jadi motivator abang ini bah..
fase-fasenya kok gak termasuk GALAU ? LOL..
at all bagus kok tulisanmu.