Reverse Reader

Puisi, Motivasi, Review, dan lainnya..

Pages

Pajak. 

Sebuah kata yang saat ini sering menjadi perbincangan oleh khalayak ramai. Ada yang mengerti, ada yang peduli, ada yang benci, ada pula yang sensi (sepertinya yang terakhir ini yang paling rame ya?). Tidak hanya di  Indonesia saja, tapi di luar sana, termasuk di Amerika pajak adalah salah satu hal yang paling dihindari. Bahkan seorang Albert Einstein berkata [on filing for tax returns] This is too difficult for a mathematician. It takes a philosopher.” Selain Einstein salah seorang tokoh, yaitu Herman Wouk berkata “Income tax returns are the most imaginative fiction being written today.” Atau yang satu ini dari Robert A. Heilin “There is no worse tyranny than to force a man to pay for what he does not want merely because you think it would be good for him.” Namun, biarpun mereka berkata seperti itu, bukan berarti mereka tidak membayar pajak lhoo. Oh iya, pajak juga pernah menjadi bagian lirik lagu The Beatles lhoo, judul lagunya adalah Taxman. Berikut bagian dari lagu Taxman yang ditulis oleh George Harrison.

If you drive a car, I'll tax the street;
If you try to sit, I'll tax your seat;
If you get too cold, I'll tax the heat;
If you take a walk, I'll tax your feet.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Setiap tahun pada tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda. Pada hari itu pula sebagian dari bangsa ini mengikrarkan 3 butir kebulatan tekad yang terdapat pada Naskah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928. Masing-masing pernyataan tersebut memiliki makna tersendiri. Sesuai dengan judul dari tulisan ini, maka yang menjadi perhatian adalah pernyataan ketiga.  Pernyataan ketiga tersebut berbeda dari kedua pernyataan sebelumnya, dimana pada pernyataan ketiga terdapat kata "menjunjung" bukan kata mengaku seperti dua pernyataan sebelumnya. Adapun makna kata menjunjung pada pernyataan tersebut adalah sebagai bangsa Indonesia, kita harus mendahulukan, mengedepankan, mengutamakan bahasa Indonesia di atas bahasa lainnya.


Apa yang ada dipikiran anda sewaktu mendengar kata ‘World Bank’? Sepertinya sebagian besar akan mengatakan sebuah lembaga yang mengatur tentang keuangan dunia, ada juga yang menyatakan bahwa itu adalah tempatnya mantan menteri keuangan berada, atau malah menyebutkan tempat kita berutang.
Kemarin, rabu 14 Maret 2012, kami warga STAN berkesempatan untuk mengenal World Bank lebih dekat. Perkenalan ini disajikan oleh 3 orang penyaji yang merupakan petinggi dari World Bank sendiri yaitu Pak Hekinus Manao, Dini Djalal, dan Gunawan Pribadi. Penyajian ini disajikan dalam bentuk kuliah umum yang dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing kelas dan juga dosen dan petinggi STAN, termasuk dosen dan pegawai sekretariat.

Kuliah umum dimulai dengan pembukaan oleh MC dan di lannjutkan dengan live accoustic performance dari Artsy Chamber sebuah perkumpulan penyanyi dan pemain musik yang menggunakan beberapa instrumen akustik. Adapun lagu yang dibawakan oleh mereka adalah Still a friend of mine - Incognito, Can’t take my eyes off you dan You’re my everything - Glenn Fredly.
Kemudian acara pun dilanjutkan dengan acara inti yaitu Kuliah umum World Bank. Yang menjadi moderator adalah Bapak Marmah Hadi, beliau merupakan alumni STAN yang cukup sukses dibidangnya. Materi pertama yang disampaikan oleh Pak Hekinus Manao, beliau adalah seorang alumni STAN dan saat ini menjabat sebagai Executive Director dan sebagai anggota Board of Directors of the World Bank mewakili Brunei Darussalam, Fiji, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Thailand, Tonga dan Vietnam. Sebelumnya beliau sempat menjabat sebagai Inspektur Jenderal di Kementerian Keuangan di Indonesia.
Materi pertama yang disampaikan berjudul “THE WORLD BANK AND THE DEVELOPING COUNTRIES : Roles, Challenges, and Opportunities”. Dalam materi tersebut dapat diketahui bahwa World Bank adalah sebuah organisasi yang dibentuk akibat kebutuhan pembangunan kembali ekonomi internasional yang mendesak akibat perang. World Bank tidak sama dengan IMF, jika IMF menangani perekonomian pada umumnya maka World Bank menangani perbaikan kualitas pembangunan negara-negara terutama negara yang masih tergolong miskin sesuai dengan visi WB yaitu “Our Dream is a world free of poverty”.
World Bank Group sendiri terdiri atas 5 institusi, yaitu International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), International Development Association (IDA), International Finance Corporation (IFC), Multilateral Invesment Guarantee Agency (MIGA), dan International Center for the Settlement of Investment Disputes (ICSID). Masing-masing institusi ini memiliki tujuannya masing-masing,  
  • IBRD (World Bank) yaitu memperbaiki kualitas pembangunan rakyat yang masih miskin. Selain, menyediakan dana WB juga mengembangkan kemampuan teknis yang dimiliki negara yang sedang berkembang.
  • IDA, bertujuan untuk melakukan dukungan pembangunan negara-negara yang tergolong miskin (yang pendapatan perkapitanya hanya mencapai 2 dollar per hari).
  • IFC bertujuan untuk mendukung korporasi ataupun perusahaan swasra yang ingin berinvestasi
  • MIGA bertujuan untuk melindungi investor yang ingin berinvestasi (dengan memberikan garansi) dari gangguan-gangguan yang cenderung berbau politik
  • ICSID bertujuan untuk memediasi investor dengan negara tertentu (sebagai forum arbitrase)
Mengapa sebuah negara harus meminjam dari WB? Ada beberapa alasan yand dijadikan untuk meminjam dari WB, diantaranya WB memiliki biaya bunga dengan rating AAA dengan biaya sangat rendah, WB dapat meminjamkan dana kepada negara yang sangat miskin dengan tanpa bunga. Jika meminjam pada pasar lebih tidak terkontrol sedangkan jika meminjam ke WB akan ditanya tujuan terlebih dahulu dan WB akan mengontrol progress proyek yang diajukan pendanaannya. 
WB tidak hanya mendukung pendanaan dibagian pemberantasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, tetapi dibanyak bidang lain, seperti pencegahan malaria, reformasi sistem perpajakan, pembangunan database, pembangunan kehidupan urban, melawan HIV/AIDS, perencanaan keluarga dan populasi dan masih banyak lagi. Apa saja contohnya di Indonesia? BOS, Jamkesmas, PNPM adalah beberapa program yang merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan WB.
Fokus kerja WB saat ini adalah di bagian Asia Timur dan Pasifik serta Asia Selatan. Karena hasil penjumlahan dari populasi yang terdapat di negara-negara tersebut sekitar 2/3 dari seluruh total populasi manusia yang ada diseluruh permukaan bumi. Menurut hasil penuturan dari Pak Hekinus, Indonesia merupakan pemegang saham terbesar di negara-negara yang ditanganinya, yaitu sebesar 1% dari seluruh total saham. Tapi selama ini kesempatan yang dimiliki untuk memanfaatkan hal tersebut masih sedikit karena sampai saat ini jumlah orang Indonesia yang bekerja di Kantor Pusat di Washington masih berjumlah 48 orang dari jumlah staf yang mencapai 7000 orang dari seluruh dunia.
Hingga 2011, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara peminjam terbesar di WB (IBRD) namun tidak lagi termasuk dalam 10 besar peminjam IDA karena Indonesia sudah dianggap lulus. Menurut informasi dari Pak Hekinus Indonesia berencana untuk menjadi negara pendonor IDA, karena hingga saat ini hanya Singapura yang menjadi negara pendonor.
Darimana WB mendapatkan dananya? Dana yang dimiliki WB berasal dari donor, pembayaran pinjaman, biaya arbitrase, pembayaran utang, investasi dana, dsb. 
Kemudian materi pun dilanjutkan oleh Ibu Dini Djalal yang menjelaskan tentang “The World Bank Group Welcomes Applicants From All Over The Globe”. Materi ini cukup singkat karena hanya menjelaskan bahwa WB menerima orang-orang berprestasi dibidangnya untuk mendaftar dan bekerja di WB. Proses penerimaan terbagi atas 2 jalur, pertama melalui sistem paket yaitu Young Professionals Program dan Junior Professionals Associates, dan yang kedua melalui sistem reguler yaitu rekrutmen teknisi, professional administrator, dan staff.
Adapun materi berikutnya adalah “Research Opportunities” yang dijelaskan oleh Pak Gunawan Pribadi, beliau juga alumni STAN. Dalam materi ini dijelaskan bahwa WB memiliki bank data yang dapat diakses melalui internet oleh siapa saja. Data yang dimiliki berbagai macam yang tentunya berhubungan dengan kegiata ekonomi atau pembangunan dari berbagai negara. Dengan kebijakan yang telah dibuat, lebih banyak informasi dapat disajikan kepada publik dengan mengakses data.worldbank.org.
Acara pun diakhiri dengan penyerahan plakat kepada masing-masing narasumber, kemudian menyanyikan lagu Mars STAN yang merupakan permintaan dari Pak Hekinus Malau. 



The power of kepepet..
Sebuah rangkaian kata singkat yang menggema sekian tahun yang lalu yang kemudian menjadi bahasa semakin banyak digunakan. Inti sebenarnya adalah saat mendekati deadline dari sebuah tugas maka saat itu semua upaya akan dilakukan agar tugas itu selesai, entah hasilnya maksimal atau tidak itu menjadi urusan belakang. 
Dalam urusan organisasi (khususnya kemahasiswaan), istilah tersebut lebih banyak dipakai. Pada umumnya tekanan-tekanan menjelang deadline yang datang dari berbagai penjuru membangkitkan ide-ide yang dipaksa untuk segera keluar dengan cepat. Sebagian hasil kerja dari kegiatan ini adalah hasil maksimal (jika ternyata ide yang keluar tersebut tepat dan sesuai dengan  keadaan) dan sedangkan sebagian lainnya malah berujung pada acara atau tugas yang dianggap gagal.
Apa setiap orang yang merasa terintimidasi bisa menghasilkan ide atau pekerjaan yang maksimal? tentu tidak. Karena setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda dan terbatas.
Kita tahu bahwa ketika tugas diberikan (yang mempunyai deadline yang cukup lama), hal tersebut menjadi sebuah hal yang penting dan harus dikerjakan. Tetapi untuk beberapa hal kita menempatkannya pada posisi penting dan dikerjakan “nanti”. Dengan beberapa kali hal ini kita lakukan maka akan menjadi kebiasaan yang berakhir pada penundaan. 
Procrastination.. Kecenderungan untuk menempatkan hal yang penting menjadi urusan akhir, mendahulukan yang kurang penting, atau kita sebut saja menunda-nunda pekerjaan. 
Apa dampaknya? Pekerjaan jelas terhambat, beberapa argumen mentah tak terbantah dikeluarkan, emosi yang meningkat, profesionalisme tercoreng.
Profesionalisme? Ada apa dengan profesionalisme?
Sesunggah dalam berorganisasi, kita dituntut untuk menjadi orang yang bisa menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja. Apa saja bagian profesionalisme itu adalah integritas, tanggung jawab, disiplin, dsb. Apalagi sebagai organisasi yang menangani cukup banyak orang tentu hal ini sangat diperlukan. Sebagai contoh , Bagaimana jika ketika data yang sudah diberikan deadline masih tetap belum terkumpul walaupun sudah diberikan keringanan selama beberapa hari? Jelas, sekali akan menghambat pekerjaan lain yang tentu masih membutuhkan konsentrasi yang lebih.
Contoh lainnya, untuk organisasi yang menangani cukup banyak orang tersebut, biasanya menggunakan media sosial untuk mensosialisasikan berbagai macam hal berkenaan dengan kegiatan yang harus dilakukan peserta. Tapi masih saja ada yang menunggu dan menggunakan masa liburan untuk benar-benar berlibur. Padahal, para peserta pasti membutuhkan info-info penting yang didapat dari organisasi tersebut, perlu mengajukan pertanyaan dan memberikan dorongan semangat. 
Dan ketika diajukan pertanyaan kepada pihak yang berwenang atas tugas tersebut berbagai macam alasan akan kita terima yang dianggap bisa membenarkan kegiatan yang dilakukannya. Apa salahnya sebagai organisasi yang memberikan pelayanan kepada banyak orang pekerjaan dilakukan benar-benar dengan kesadaran dan keihlasan, tanpa harus menunggu perintah dan tekanan-tekanan dari luar. 
So.. What’s the point? 
Intinya adalah dalam bekerja walaupun pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sederhana, kita tidak boleh meremehkan atau menomor sekiankan pekerjaan tersebut. Kerjakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Bukan menunggu untuk menjawab.



Pengamen, pengemis dan pedagang singgah… Yap, salah satu dari tiga hal ini adalah yang anda sering temukan ketika sedang menaiki bus kota di Jakarta. Bukannya saya tidak suka untuk menggunakan moda transportasi ini dan juga tidak bermaksud untuk sombong, tapi saya jauh lebih suka menggunakan KRL. Dilihat dari sisi ekonomisnya memang KRL akan berada diatas dari bus, namun untuk keamanan dan waktu sesungguhnya KRL memiliki kelebihan walaupun Bus bisa saja lebih cepat (kalau tidak macet).
Hari ini kekesalan saya dengan bus ini terjadi kembali, yaitu ketika mereka dengan seenaknya saja berhenti atau menurunkan penumpang, menyerobot jalan, selain itu ada juga pengamen/pengemis bergaya preman yang 2 kali muncul dengan orang yang berbeda pula tentunya. Jika memilih menggunakan KRL/Commuter line tentu saja hal ini tidak akan terjadi. 
Disini saya akan sedikit membahas tentang judul tersebut..
Yang pertama adalah pengemis, anda pasti sudah tahu, nah disini saya bahas saja  pengamen atau pengemis (saya bahkan tidak tahu menyebutnya apa) yang bergaya preman. Tipe mereka ini adalah masuk kedalam Bus, kemudian menyebutkan beberapa kata “mutiara”nya.
“Assalamualaikum bapak ibu saudara saudara, bla..bla….bla. (saya ga hapal), laa haula walaa quwwata illa billah (ini mereka menyebutnya seenaknya aja), banyak orang menodong, mencuri, merapok, untuk mencari makan/sesuap nasi, bla..bla..bla.. dari pada kami menodong, berilah kami sebagian rezeki dari bapak ibu, semoga dibalas oleh tuhan bla..bla..bla.. perhatikan barang bawaan anda jangan sampe tertinggal (bah, emang operator busway/KRL yak??). Kemudian mereka datang ke masing-masing kursi dan menodongkan topi, kenapa saya sebut menodong? karena mereka memaksa orang untuk mengisi topinya tersebut. 
Selain itu ada juga yang melakukan hal tersebut dengan bermain pisau silet, dengan geraka tersebut mereka menyayat lengan dan lidah mereka namun tidak berdarah. Jika melihat hal tersebut tentu saja orang merasa terintimidasi dan ketakutan, mereka membawa senjata sedangkan penumpang tak tahu apa-apa. Ini hal hal yang paling tidak saya sukai.
Pengisi selanjutnya adalah pengamen, pengamen bentuknya eh tipenya bermacam-macam, ada yang standar (dengan menggunakan gitar plus suara fals), lumayan, (gitar plus suara bagus), minimalis (hanya dengan suara plus kecrekan/tepuk tangan), sampai heboh (bawa band kedalam bus). Untuk mereka dengan kemampuan seperti ini saya terkadang memberi logam atau kertas kekantong mereka, karena saya anggap mereka sudah berusaha apalagi kalau suaranya bagus. Tapi jika mereka malah memberikan amplop, saya malah tidak akan mengisinya, dalam pikiran saya (benarkah yang ditulis mereka? untuk makan benar tentunya, untuk sekolah anak? bukankah mereka ngamen dari pagi? kapan sekolahnya?).
Maaf saya tidak bermaksud untuk sombong tapi bukankah jika mereka (pengamen n pengemis) mendaftarkan diri untuk bekerja lebih baik dan menyekolahkan anaknya akan lebih baik? Allah kan sudah berjanji kalau orang berusaha pasti diberikan jalan asalkan niat itu ikhlas dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Salah satu contoh yang tidak mengenakkan adalah pada setiap hari Jumat, selalu ada anak kecil yang menjadi pengemis di Masjid dekat kampus saya, mereka bersedia menunggu mulai sebelum hingga sholat Jumat usai. Yang menjadi pikiran saya, kenapa orangtuanya tidak mengajari mereka untuk sholat? malah mereka bermain-main ketika yang lain sedang melaksanakan sholat. Ketika keluar dari daerah masjid, saya menemukan beberapa wanita dewasa yang kemungkinan besar dan memang adalah orang tua dari anak-anak tersebut duduk dengan tenang menunggu anaknya mengemis. Ini menyedihkan bagi saya.
Saya teringat tweet dari ustad yusuf mansur, tentang pengemis. Beliau sama sekali tidak setuju untuk memberikan pengemis tersebut uang. Lebih baik diberikan makanan, pakaian atau bantuan lain selain uang. Dapat pula diberikan bantuan peralatan kerja untuk berdagang kecil-kecilan misalnya atau beasiswa sekolah. Tapi bukan hal yang aneh jika mereka menolak kita berikan makanan, mereka jauh memilih uang.
Pengisi selanjutnya yang paling baik sebenarnya diantara mereka adalah pedagang singgah. Mereka membawakan barang seperti tissue, makanan, atau minuman, atau makanan ke dalam bus berharap ada satu dua orang yang membeli barang mereka. Mereka terkadang mendapatkan hasil yang lebih sedikit dari kedua pengisi diatas. 
Sekarang tergantung kebijakan kita memilih yang mana? siapa yang harus diberi, atau apa yang dibeli? Ikhlas diri atau terintimidasi.

    About Me

    My Photo
    Imran_ran
    i am imran, i am a boy whom still trying to reveal the real me. I am an undergraduate student of STAN, my specialization is Tax Administration. Now, i have to fight my self and try to find suggestions that can make my mind free and release from this illness..
    View my complete profile

    Followers

    Total Pageviews