Reverse Reader

Puisi, Motivasi, Review, dan lainnya..

Pages



Pengamen, pengemis dan pedagang singgah… Yap, salah satu dari tiga hal ini adalah yang anda sering temukan ketika sedang menaiki bus kota di Jakarta. Bukannya saya tidak suka untuk menggunakan moda transportasi ini dan juga tidak bermaksud untuk sombong, tapi saya jauh lebih suka menggunakan KRL. Dilihat dari sisi ekonomisnya memang KRL akan berada diatas dari bus, namun untuk keamanan dan waktu sesungguhnya KRL memiliki kelebihan walaupun Bus bisa saja lebih cepat (kalau tidak macet).
Hari ini kekesalan saya dengan bus ini terjadi kembali, yaitu ketika mereka dengan seenaknya saja berhenti atau menurunkan penumpang, menyerobot jalan, selain itu ada juga pengamen/pengemis bergaya preman yang 2 kali muncul dengan orang yang berbeda pula tentunya. Jika memilih menggunakan KRL/Commuter line tentu saja hal ini tidak akan terjadi. 
Disini saya akan sedikit membahas tentang judul tersebut..
Yang pertama adalah pengemis, anda pasti sudah tahu, nah disini saya bahas saja  pengamen atau pengemis (saya bahkan tidak tahu menyebutnya apa) yang bergaya preman. Tipe mereka ini adalah masuk kedalam Bus, kemudian menyebutkan beberapa kata “mutiara”nya.
“Assalamualaikum bapak ibu saudara saudara, bla..bla….bla. (saya ga hapal), laa haula walaa quwwata illa billah (ini mereka menyebutnya seenaknya aja), banyak orang menodong, mencuri, merapok, untuk mencari makan/sesuap nasi, bla..bla..bla.. dari pada kami menodong, berilah kami sebagian rezeki dari bapak ibu, semoga dibalas oleh tuhan bla..bla..bla.. perhatikan barang bawaan anda jangan sampe tertinggal (bah, emang operator busway/KRL yak??). Kemudian mereka datang ke masing-masing kursi dan menodongkan topi, kenapa saya sebut menodong? karena mereka memaksa orang untuk mengisi topinya tersebut. 
Selain itu ada juga yang melakukan hal tersebut dengan bermain pisau silet, dengan geraka tersebut mereka menyayat lengan dan lidah mereka namun tidak berdarah. Jika melihat hal tersebut tentu saja orang merasa terintimidasi dan ketakutan, mereka membawa senjata sedangkan penumpang tak tahu apa-apa. Ini hal hal yang paling tidak saya sukai.
Pengisi selanjutnya adalah pengamen, pengamen bentuknya eh tipenya bermacam-macam, ada yang standar (dengan menggunakan gitar plus suara fals), lumayan, (gitar plus suara bagus), minimalis (hanya dengan suara plus kecrekan/tepuk tangan), sampai heboh (bawa band kedalam bus). Untuk mereka dengan kemampuan seperti ini saya terkadang memberi logam atau kertas kekantong mereka, karena saya anggap mereka sudah berusaha apalagi kalau suaranya bagus. Tapi jika mereka malah memberikan amplop, saya malah tidak akan mengisinya, dalam pikiran saya (benarkah yang ditulis mereka? untuk makan benar tentunya, untuk sekolah anak? bukankah mereka ngamen dari pagi? kapan sekolahnya?).
Maaf saya tidak bermaksud untuk sombong tapi bukankah jika mereka (pengamen n pengemis) mendaftarkan diri untuk bekerja lebih baik dan menyekolahkan anaknya akan lebih baik? Allah kan sudah berjanji kalau orang berusaha pasti diberikan jalan asalkan niat itu ikhlas dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Salah satu contoh yang tidak mengenakkan adalah pada setiap hari Jumat, selalu ada anak kecil yang menjadi pengemis di Masjid dekat kampus saya, mereka bersedia menunggu mulai sebelum hingga sholat Jumat usai. Yang menjadi pikiran saya, kenapa orangtuanya tidak mengajari mereka untuk sholat? malah mereka bermain-main ketika yang lain sedang melaksanakan sholat. Ketika keluar dari daerah masjid, saya menemukan beberapa wanita dewasa yang kemungkinan besar dan memang adalah orang tua dari anak-anak tersebut duduk dengan tenang menunggu anaknya mengemis. Ini menyedihkan bagi saya.
Saya teringat tweet dari ustad yusuf mansur, tentang pengemis. Beliau sama sekali tidak setuju untuk memberikan pengemis tersebut uang. Lebih baik diberikan makanan, pakaian atau bantuan lain selain uang. Dapat pula diberikan bantuan peralatan kerja untuk berdagang kecil-kecilan misalnya atau beasiswa sekolah. Tapi bukan hal yang aneh jika mereka menolak kita berikan makanan, mereka jauh memilih uang.
Pengisi selanjutnya yang paling baik sebenarnya diantara mereka adalah pedagang singgah. Mereka membawakan barang seperti tissue, makanan, atau minuman, atau makanan ke dalam bus berharap ada satu dua orang yang membeli barang mereka. Mereka terkadang mendapatkan hasil yang lebih sedikit dari kedua pengisi diatas. 
Sekarang tergantung kebijakan kita memilih yang mana? siapa yang harus diberi, atau apa yang dibeli? Ikhlas diri atau terintimidasi.

0 Responses so far.

Post a Comment

    About Me

    My Photo
    Imran_ran
    i am imran, i am a boy whom still trying to reveal the real me. I am an undergraduate student of STAN, my specialization is Tax Administration. Now, i have to fight my self and try to find suggestions that can make my mind free and release from this illness..
    View my complete profile

    Followers

    Total Pageviews